Senin, 16 November 2015

EDOGAWA BLOG'S

"AIR MATA BUMI"
(Silpana Fauziah)

Bumiku cinta
Malang sungguh nasibmu
Memang sungguh biadab makhluk berhati itu
Hamburkan harta yang kau kandung dengan percuma

Bumiku cinta
Dimana pagar-pagarmu yang menjulang tinggi?
Dimana pula ilalang-ilalang
yang tumbuh subur di padang itu?
Mengapa kini hanya gedung megah
nan mencakar langit yang berpijak teguh pada tubuhmu?

Bumiku cinta
Jangan tangisi tragedi ini
Kau sudah cukup lelah
menampung seluruh makhluk tamak ini
Biarkan mereka sadar
Akan sihir yang selalu mereka mainkan
untuk menyakitimu dengan tangan-tangannya
Biarkan mereka dengar
Tangisan lirihmu

Bumiku cinta
Hentikan isakanmu
Yang membuat kami tergenangi
Bendung air matamu
Yang membuat kami terseret arusnya

Bumiku cinta
Jangan telan orang-orang berdosa itu
Biarkan saja mereka telan dirinya sendiri atas perbuatannya

Bumiku cinta
Mereka biadab
Jangan kau sesali
Tak semua berakhlak kotor seperti mereka
Tetap ada yang mencintaimu
Yang kelak akan mengusap linangan air matamu




April 2015

Sabtu, 14 November 2015

EDOGAWA BLOG'S

"GEMA PANGGILAN TUHAN"
(Silpana Fauziah)

Gemerisik pepohonan tertiup angin
Belaian angin serasa mengusap kalbu
Kokok ayam tak henti-hentinya bersahutan
Menyusup ke celah-celah hati yang tabu

"Assolatukhoirumminannaum"
Syair adzan terdengar syahdu
Menggema keseluruh penjuru
Mengalahkan kebisingan
Kokok ayam yang amat berisik itu

Panggilan Tuhan telah menggema
Bangkitkan semua jiwa yang terlelap
Dari dunia mimpi yang membuainya

Allohu akbar Allohu akbar
Hati ini bagai tertembak jutaan peluru dosa
Saat seluruh memori kedurhakaan kuingat

Ya Rabbku
Betapa aku berdosa pada-Mu
Fajar telah terbit
Enggan aku melangkahkan kaki ini
Untuk menyembah dan bersujud pada-Mu
Sebab godaan syetan senantiasa mengusikku
dengan bisikan jahilnya

Laa ila ha illallah
Aku ingin bersujud pada-Mu
Panggilan merdu-Mu telah bangkitkan hatiku

Ya Allah
Aku khilaf
Gema panggilan-Mu membuatku bangun dari kegundahan
Astaghfirullahaladzim



April 2015

EDOGAWA BLOG'S

"BIANGLALA NUSANTARA"
(Silpana Fauziah)

Bumi elok di garis khatulistiwa
Terbentang luas
Menyuguhkan keanekaragaman keindahan
Di antara ganasnya roda zaman

Tubuh gemulai anak-anak bangsa
seirama alunan gamelan
Memancarkan keanggunan
Menyejukkan kegundahan
Menyampaikan kedamaian

Jari renta pemegang canting
Tak lelah mengukir asa di helaian kain
Melahirkan nuansa bercorak makna
Sebuah kearifan yang tak tenggelam
Di antara mesin-mesin tak berperasaan

Bumiku
Tetaplah perkasa dengan kebhinekatunggalan
Teruslah tunjukkan
Kegemilangan dengan persatuan

Jangan biarkan anak-anakmu
Tak kenal keluhungan budimu
Yang tersirat lewat tarian
Yang terlukis lewat goresan
Yang terukir lewat pahatan
Yang tertata dari pakaian

Jangan biarkan anak-anakmu terseret pusaran zaman
Yang tak kenal jati diri

Sayap-sayap kecil yang siap mengembang
Akan turut menjagamu



Maret 2015

EDOGAWA BLOG'S

"KETIKA ANGIN BERDZIKIR"
(Silpana Fauziah)

Malam diselimuti kebisuan pekat
Bisik angin menggugah jiwa gundah
Mengusap mesra raga yang lelah

Netra hati seakan dibanjiri air bah
Catatan absen di setiap waktunya
Terpampang merah rambu kealfaan

Amat asing bagiku
Tuhan dan kekuasaan-Nya
nalarku tertutup kefasikan

Kubersimpuh menghadap-Mu
Saat tersentak dari gelimang dosa
Tak mampu kuberkata apa-apa
Dera,siksa,azab
Menanti saat tiba
membuat jiwa berdosa
Rapuh olehnya

Air mata yang berderai
Mengantar sesal di sesaknya dada
Membayang takut kemurkaan-Mu
Ampuni aku Tuhan
Duka dan nestapa telah berbalut di tubuhku
Aku menyesal

Duhai angin yang tengah berdzikir
sampaikan maafku pada Tuhan
Akan tumpukan dosa yang aku lakukan
Sedangkan diriku hanya hanba yang masih belia

Tuhan
Bukakan pintu menuju-Mu
Jauhkan kelak dari panas neraka-Mu
Rengkuh aku untuk menempati surga-Mu



Maret 2015

EDOGAWA BLOG'S

"GERIMIS SORE HARI"

(Silpana Fauziah)

Awan mendung menyisakan sedikit goresan
Langit senja kelabu
Dengan rintihan dalam tangisnya

Aku termangu dalam guyuran tangisannya
Bisu seraya tersungkur menciumi tanah
Dihakimi sang petir yang begitu menggelegar

Andai dapat kujelaskan
Aku tiada bisu
Lewat mata kubicara padamu

Kau hanya bayangan
Kau hanyalah kesemuan semata
Engkau tiada nyata

Sesak
Hati ini sesak oleh ribuan luka pisaumu
Aku tak kuasa lagi bertahan
Ribuan duka ini menggerombol
menumbuhkan benih-benih kebencian
di ladang kasih sayang

Senja tiba berpayung rintihan
Petir-petir bersahutan manja menyambutnya
Aku masih disini
Terpaku dengan rintihannya

Aku benci senyum itu
Aku benci
Aku, kamu, dan saat ini

15 november 2015

Sabtu, 07 November 2015

EDOGAWA BLOG'S

"SAJAK ITU ADALAH DIRIMU"
(Silpana Fauziah)

Setiap kali bertemu
Senyum itu selalu ada di wajahmu
Menyisakan sepercik rindu di dada

Aku tak mengerti
Bagaimana caramu menyikapi hidup ini
Senyum itu
Senyum yang amat abadi
Senyum yang selalu kukenang
Senyum yang amat berbianglala di langit senja

Tak lagi kutemui
Sesosok bayang di ujung senja

Engkaulah secercah harapan
Engkaulah senja dalam sajak itu
Engkaulah sosok yang menjelma menjadi kata indah itu
Dan engkaulah sajak kecil yang selalu kusenandungkan
di kala sang senja menghampiri

Rasa yang kian temaram
Kembali terbit bersama sang rembulan
Kala senja pergi
Aku termangu disini
bersama sajak kecil nan sepi
Sajak indah
Sajak yang kurangkai untukmu


11nov2015

EDOGAWA BLOG'S

"RENUNGAN SENJA"
(Silpana Fauziah)

Kala kuuntai ribuan dosa
dalam hasrat tak bertuan
membelenggu dada nan tersiksa
berpagar setan-setan nista

Gema panggilan Tuhan telah berkumandang
Kala jiwa tersungkur di lautan nestapa
Beruraian air mata dusta nan lara

Aku tersentak dari dudukku
Termangu dalam kesepian senja
yang mulai tertelan kegelapan malam

Ya Tuhan
Betapa nistakah aku?
Termangut-mangut dalam lautan munkar

Dalam renung dan sujudku
Berlinangan mesra ketabuan waktu
Hati tergetar dan menggerutu

Ya Tuhan
Ampuni aku
Jauhkan aku dari panas neraka-Mu
Rengkuh aku untuk menempati surga-Mu

11nov2015

EDOGAWA BLOG'S

"SURATAN SENJA"
(Silpana Fauziah)

Jika alam hanyalah sebuah kiasan
Tanpa ragu kutatapnya tak jemu
Kulukis indah dalam mimpi semu

Rasa yang tak biasa
Membelenggu dada tersiksa
Termenung di balik senja

Tak lelah kurangkai kepalsuan itu
menjadi sebuket duka menggerutu
Bisu
Aku terdiam tak tentu
menggerutu bersama waktu

Tatap wajah rindu
Tersentak aku dari sujudku
Termangu dalam kesemuan bayang

Enggan kubicara
hening sepi tercipta

Kian sesak amarah di dada
Ingin kuungkap
namun bimbang

Aku tertunduk
Begitu hina di hadapan Tuhan


11 nov 2015