Rabu, 05 Oktober 2016

EDOGAWA BLOGS


SECERCAH HARAPAN DI BALIK SENJA



            Di setiap mentari mulai menggeliat manja bersamaan dengan riuh kicau burung, selalu kusempatkan diri berjalan-jalan menyusuri tepian jalan yang telah cukup rapi bertrotoar dan mulai ramai dengan berbagai aktivitas. Sembari mencari berbagai inspirasi untuk karya tulisku nanti. Kebetulan, aku seorang penulis. Gemar membuat cerita-cerita, puisi, dan karya sastra lainnya.

      Saat aku duduk di salah satu bangku yang ada di tepi jalan sembari menyantap makanan yang telah kubeli tadi dari sebuah warung, kulihat seorang anak dengan dasi biru yang melingkar di lehernya, sepatu lusuh yang ia kenakan nampak tak membuat semangatnya surut. Terlihat ia bernyanyi-nyanyi kecil di sepanjang jalan sembari menjinjing kantong plastik hitam yang nampak berisi beberapa bungkus jajanan rumahan. Dia berjalan sedikit berjingkrak-jingkrak dan saat melihatku dia tersenyum simpul sembari berkata, “Selamat Pagi, Kak!” sapanya. Aku tertegun. Sepertinya aku tak pernah mengenalnya sama sekali. Bocah laki-laki dengan lesung pipit di kedua pipinya membuatnya terlihat manis. Aku hanya memberi respon senyum walau terlambat karena anak itu sudah nampak jauh berjalan. Kuikuti langkah kecilnya dan terhenti di sebuah Sekolah Menengah Pertama. Saat itu bel berbunyi dengan lantangnya, anak itu tampak berlari sekencang mungkin sebelum pagar ditutup. Aku berbalik arah setelah memastikan bahwa anak itu memang anak yang sangat disiplin juga riang.

***

      Siang ini aku mengunjungi taman. Seperti biasa, menunggu waktu senja datang sembari merangkai beberapa bait puisi berteman cakrawala jingga yang sarat oleh lembayung. Taman ini memang selalu sepi, jarang sekali ada orang yang mengunjungi, hanya beberapa gelintir orang yang datang dan berpose ria disini. Ada sebuah kursi dibawah pohon rindang di taman ini. Disanalah aku terbiasa menghabiskan waktu seorang diri bersama riuh angin yang menerpa dedaunan, menghembuskan damai ke dasar relung dada.

      Ada seseorang duduk disana, di dekat telaga yang ada di ujung taman ini. Seorang bocah lelaki yang serasa tak lagi asing bagiku. Ya, tak salah lagi. Itu memang bocah manis tadi. Bocah yang menyapaku di pinggir jalan tadi. Dia tengah merenung, entahlah sikapnya justru sangat jauh berbeda dengan pagi tadi. Raut senyum di wajahnya tak lagi nampak, seperti ada kesedihan yang begitu mendera jiwa. Ia bangkit dari duduknya. Sembari menyeka air mata yang jatuh di pipinya. Dia menangis. Ya, benar, dia benar-benar menangis.

      Aku sangat heran dengan sikapnya. Keceriaan dan keriangannya pagi tadi ternyata menyembunyikan duka yang begitu mendalam. Saat ia beranjak pergi dari duduknya, kuikuti langkahnya dan tiba di sebuah rumah kecil nan sederhana. Rumah yang masih berdinding kayu yang nampak lapuh termakan usia. Nampak seorang wanita parubaya duduk di beranda sembari menyusun beberapa helai bambu, bertumpaktindih membentuk sebuah motif indah bernuansa. Bocah laki-laki itu nampak menyalami wanita parubaya tadi. Itu pasti ibunya. Terbukti saat bocah itu memanggilnya dengan sebutan ‘emak’. Aku mengamati kegiatan mereka saat itu dari balik rimbun pepohonan. Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki berkumis tebal dan brewokan dengan dada tegap dan tubuh yang kekar keluar dari pintu rumah yang telah amat reyot itu. Laki-laki itu keluar dengan penuh amarah seperti memaksakan sesuatu pada wanita itu.

“Aku tidak punya uang lagi mas, iya, sumpah aku tak punya uang lagi setelah kau rampas semua hasil kerja kerasku semalam! Sesungguhnya untuk apa? Untuk apa semua uang itu? Untuk kau pertaruhkan di meja perjudian? Iyakah? Apa untungnya mas? Apa?” pekik wanita itu seraya menangis tersedu-sedu.

“Diam kau! Tak perlu banyak bicara, serahkan uang itu sekarang! Aku membutuhkannya!” gertak lelaki itu dengan kasarnya.

“Sudahlah mak, pa, tak usah kalian bertengkar lagi! Aku sudah muak, muak mendengar percekcokan kalian di rumah ini! Semuanya serasa berbeda. Jauh berbeda dengan keadaan keluarga kita dulu. Pa, kenapa bapa jadi begini? Bapa jadi brutal bengis semenjak bapa bangkrut? Bapa juga jadi sering mendatangi meja pejudian, mabuk-mabukan semenjak itu! Untuk apa, pa? Bapa dulu seorang yang baik, tak seperti saat ini. Kasihan emak pa, kasihani dia yang bekerja keras menjadi tulang punggung keluarga utuk menghidupi kita! Kenapa bapa hamburkan uang itu begitu saja?” bocah tadi keluar dari rumah dengan wajah kecewanya menghampiri ibu bapaknya yang tengah dilanda konflik hebat.

“Plakkk” suara tamparan terdengar begitu kencang, membuat merah di pipi anak itu.

“Sejak kapan kau menjadi pembangkang, Toni? Aku ini bapakmu, tak perlu kau bicara seperti itu padaku. Dasar bocah tak berguna, untuk apa kau sekolah bila kau masih belum bisa menghargai orang tua? Buat apa? Lebih baik tak usah kau pergi sekolah lagi, itu hanya membuang biaya saja! Cuihhh!” lelaki bengis itu begitu menyeramkan.

“Kau bukan bapakku! Bapak bukan lelaki kasar sepertimu! Siapa kau? Mabuk dan perjudian telah mengubahmu menjadi seseorang yang keji, pa. Aku benci. Aku benci bapak!!” teriak anak itu pada bapaknya seraya berlari menjauh dari rumah kecil itu.

“Dasar anak tak tahu diri!” gumam lelaki itu seraya pergi meninggalkan wanita parubaya itu sendirian.

      Ternyata ini permasalahannya. Konflik di dalam keluarganya yang membuat dia murung tadi. Sungguh itu konflik yang hebat. Setidaknya aku tahu, dulu mereka keluarga yang harmonis sebelum kebangkrutan perusahaannya. Keadaan ekonomi inilah yang membuat sang ayah terjerumus ke meja perjudian. Bocah itu bernama Toni. Aku tahu ketika lelaki itu tadi menyebut namanya. Entah anak itu pergi kemana setelah pertengkaran tadi. Aku melihat beberapa bulir air matanya jatuh bercucuran di pipinya tadi. Entah dia menghilang kemana.

***

      “Syukurlah, cerpen ketigaku minggu ini telah selesai, tinggal kukirim ke surat kabar dan pembaca takkan pernah bosan menunggu lagi. Hmm, lelah rasanya!” gumamku sembari membaringkan tubuhku di kasur. Aku bangun saat tersadar bahwa jam telah menunjukkan pukul 07.30. Segera aku bangkit mengambil jaketku karena cuaca di luar saat ini cukup dingin. Gerimis turun sejak malam tadi. Keluar dari kostan, kulangkahkan kaki kananku berjalan menuju warung jajanan pagi. Seperti biasanya, aku membeli jajanan secukupnya karena aku tak pernah memiliki banyak uang. Aku belajar hidup mandiri, biaya kuliah dan makanku sehari-hari hanya dari hasil menulisku. Namun aku tak pernah merasa kekurangan sedikit pun.

      Setelah membeli beberapa makanan untuk mengganjal perutku pagi ini, aku berencana mengunjungi sekolah itu lagi. Kebetulan, sekolah itu adalah almamaterku. Ya, SMP Citra Buana. Untungnya, tak ada jadwal kuliah hari ini. Aku telah berada di depan gerbang sekolah itu. Sekolah ini telah cukup pesat berkembang daripada 8 tahun silam, saat aku masih menduduki bangku sekolah disini.

“Selamat pagi, Pa Karto!” sapaku pada penjaga gerbang sekolah yang telah cukup lama mengabdi di sekolah itu sejak aku masih sekolah disana.

“Eh, Neng Dinda ya? Sudah lama tak bertemu. Gimana neng kabarnya? Baik?” lelaki itu telah nampak begitu tua dari dahulu. Terlihat keriput tulang pipinya begitu jelas nampak. Rambutnya yang tak lagi hitam mengkilat, tubuhnya yang mulai membungkuk sungguh sangat jauh berbeda saat ia muda dulu.

“Baik sekali, pa. Sudah lama ya aku tak berkunjung kesini, bagaimana dengan bapa? Apa bapa baik-baik saja?” tanyaku kembali.

Ia hanya tersenyum simpul. Janggut putih yang lebat di dagunya menyembunyikan senyum itu.

“Kau lihat kan aku masih baik-baik saja, sama seperti saat kau masih sering merayuku sampai menangis saat tiba di sekolah terlambat dan pintu gerbang telah ditutup. Kau selalu saja datang terlambat saat itu. Namun bedanya saat ini aku sudah begitu tua. Kalau kursi mungkin sudah reyot, iya kan?” candanya sembari tertawa terbahak-bahak saat menceritakan kebiasaanku dulu.

Pa Karto memang tetap humoris seperti dulu. Tawanya masih sama saat ia menertawaiku karena merengek-rengek agar dibukakan pintu gerbang.

“Ah, bapa kok masih ingat cerita itu sih. Itu cerita lama, pa. sudahlah!”

“Tentu saja aku ingat, kau satu-satunya murid perempuan yang selalu datang terlambat. Cengeng pula.”dia tertawa sampai kedua ujung matanya bertemu.

“Oh, iya, ada perlu apa Neng?”sambungnya.

“Gini pa, saya sudah sangat rindu dengan sekolah ini. Karena tidak ada jadwal kuliah, jadinya aku kesini. Ya, sekedar main-main deh pa, sambil mau silaturahmi sama bapa ibu guru.” Jelasku.

“Oh iya iya. Silahkan masuk, Neng!” ucapnya seraya membukakan pintu gerbang. Sedari tadi kami hanya mengobrol dari balik jeruji gerbang ini.

“Terimakasih, pa” ucapku sembari melontarkan senyum pada lelaki tua itu.

“Tak usah merengek padaku lagi Neng, kau sudah besar sekarang.” godanya. Aku tersenyum.

      Tengggg… Tengggg…. Bel istirahat berbunyi kencang. Anak-anak dari setiap kelas berhanburan keluar. Seperti serangga yang keluar dari sarangnya. Mereka berebut menuju kantin sekolah. Kecuali Toni. Ia nampak berjalan santai dengan menjinjing kresek berisi keripik singkong. Ia menawarkan jajanan itu kepada teman-temannya. Nampak beberapa anak berkumpul dan membelinya. Dalam sekejap jajanan itu habis terjual. Usai berjualan, ia berlari-lari, mungkin ia ingin pergi ke suatu tempat sebelum waktu istirahat berakhir. Aku membuntutinya, ternyata ia mengunjungi pepustakaan sekolah. Dari jendela luar aku memperhatikannnya. Saat bel kembali berbunyi, ia keluar dengan membawa beberapa buku.

***

      Langit telah berubah menjadi jingga warnanya. Burung-burung beterbangan dibalik cakrawala berlembayung senja. Aku termenung disini. Memandangi langit senja, mahakarya Tuhan yang begitu agung. Kuungkap dalam kata. Rasa takjubku. Cintaku pada sang Kuasa. Tak ada yag lebih indah, tak ada yang lebih menakjubkan selain suasana senja di saat burung-burung kembali ke sangkarnya, saat mega membentuk serabut-serabut jingga di angkasa.

“Indah, Tuhan!” gumamku.

“Hu…huu,,Hu.. mengapa begini Tuhan? Mengapa hidup ini begitu rumit? Aku lelah, Tuhan. Hiks..hikss” rintih seseorang di balik pohon rindang di belakangku.

      Tiba-tiba bulu kudukku serasa berdiri. Aku hanya bergidik sendiri. Angin kencang menyusup ke dalam pori-pori. Takut rasanya membayangkan ada seseorang di balik pohon ini. “Siapa itu? Siapa? Jangan-jangan….”selera hororku semakin menjadi-jadi. Entah mengapa saat itu tiba-tiba aku berlagak selayaknya aktor-aktor film horor. Aku memberanikan diri melihat sosok yang tengah merintih itu. Jantungku berdebar begitu kencangnya. Dan….

      Ternyata itu Toni. Aku menghampirinya. Tubuh mungil itu kubelai dengan lembutnya.

“Ada apa denganmu kawan? Mengapa kau mengadu begitu? Hey, itu tidak baik. Tidak baik saat kau berkeluh kesah dengan takdir yang telah Tuhan berikan. Syukuri saja.”ucapku lembut.

Ia menoleh. “Tapi kak, ini tidak adil. Hidup ini begitu tidak adil. Mengapa di saat aku membutuhkan banyak perhatian, finansial, semuanya hancur! Mengapa harus di saat seperti ini? Mengapa?”tangisnya.

“Coba ceritakan apa masalahmu? Siapa tahu aku bisa membantu!”ucapku menenangkan.

“Begini kak. Dulu keluargaku sangatlah harmonis. Semuanya masih baik-baik saja. Bahkan keadaan ekonomi kami pun masih sangat tercukupi. Namun, sejak 3 bulan yang lalu, bapa bangkrut, hektaran kebun, ladang dan sawah bapa ludes terjual untuk membayar utang-utang bapa juga untuk membiayai pengobatan nenek yang akhirnya tidak terselamatkan. Dia stres lalu menyeburkan diri ke hal-hal yang condong negatif, seperti mabuk dan judi. Bahkan sejak saat itu, ibu harus mati-matian bekerja untuk menghidupi kami dan bapa hanya menghambur-hamburkan uang tersebut untuk kesenangan pribadinya. Dan saat ini aku membutuhkan banyak biaya untuk melanjutkan sekolahku. Aku ingin mewujudkan cita-citaku untuk mengembalikan keadaan keluargaku seperti dulu. Tapi itu tidak mungkin, ibu tidak mungkin mampu lagi membiayai sekolahku, untuk keperluan sehari-hari saja belumlah cukup. Aku tidak mungkin menjadi orang sukses. Impianku hanya akan terkubur sampai disini. Tidak. Aku tak ingin hidup seperti ini. Saat ini aku juga butuh uang untuk membayar buku-buku pelajaran.”terangnya panjang lebar.

“Hey dik, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Dunia ini luas, lihatlah.”ucapku seraya menunjukan seekor burung yang tengah mondar mandir mengambil ranting-ranting kecil pepohononan untuk membangun sarangnya.

“Lihat, apa mungkin dengan satu buah ranting saja sarang burung itu akan terbentuk? Tidak kan? Begitulah dengan kerja keras kita. Semua hal takkan terwujud jika kita hanya berjuang sekali. Tidak mungkin dik. Tuhan menginginkan kita untuk berjuang sampai batasnya. Ayolah dik, jangan mengeluh begitu. Kamu pasti bisa. Tahu tidak, sejak SMA aku hidup mandiri di kota ini, sendiri. Orang tuaku telah lama pergi merantau ke negeri lain, dan untuk membiayai hidupku aku bekerja sendiri, kadang sebagai loper Koran, penjaja kue, mencuci baju di rumah tetangga, dan baru-baru ini aku mendapatkan pekerjaanku sesungguhnya, sebagai penulis. Dari hasil kerja kerasku ini, Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan kuliahku. Semua berawal dari mimpi dik. Jika kamu punya mimpi dan tertekad untuk mewujudkannya, Tuhan takkan mempersulit itu. Percayalah, mimpi itu bukan ilusi.”jelasku.

Tangisnya terhenti. Matanya berbinar-binar. Begitu lucu. Sejak lama aku menginginkan seorang adik laki-laki.

“Benarkah kak? Kau tidak bohong kan?”Tanya dia dengan mata itu yang sedikit berkaca-kaca memantulkan pelangi indah di hatinya.

Aku menggeleng menandakan bahwa aku tidak berbohong.

“Kak, aku juga suka menulis puisi. Bisakah aku menjadi seorang penulis sepertimu? Menggapai mimpiku dengan kerja kerasku sendiri. Aku ingin kak. Aku ingin sukses dengan keringatku sendiri.”

“Tentu saja. Kamu bisa, karena kamu punya mimpi.”ucapku sembari tersenyum meyakinkannya.

Ia menyerahkan sehelai kertas padaku. Beberapa bait puisi sungguh menggugah hati.”Dia berbakat” bisikku dalam hati.

“Bolehkah kuambil puisimu ini untuk kuberikan kepada penerbit? Siapa tahu ini bisa dimuat di surat kabar dan kamu akan mendapat uang untuk membayar buku-buku itu. Percayalah padaku, besok kita bertemu disini lagi. Aku janji akan membawa kabar baik padamu.” Ucapku.

      Dia mengangguk seraya menyeka air matanya. Hari mulai petang. Mentari mulai menenggelamkan dirinya di ufuk barat. Senja telah tiba, berpayung lembayung jingga di angkasa. Kami menghabiskan waktu disini. Sama-sama tenggelam dalam pikiran sendiri. Terakhir kulihat, anak itu tersenyum dan hilang dibalik kegelapan malam.

***

      Aku melihatnya. Ya, aku telah melihatnya. Anak itu sudah tiba dan duduk seperti biasa di tempat itu. Di dekat pohon rindang di taman.

“Heyy..” sapaku.

“Heyy kak..”sahutnya.

“Ohh iya namaku Toni.” Sambungnya seraya menjulurkan tangan.

Aku tersenyum. “Aku Dinda.”balasku.

“Bagaimana kak? Aku sudah tidak sabar.”ucapnya tergesa-gesa.

“Lihat ini.”ucapku sembari menyerahkan sebuah Koran dan menunjukan sebuah halaman yang memuat karyanya hari kemarin.

“Puisiku dimuat, yeee puisiku masuk Koran. Aku bisa bayar buku, aku bisa ikut ujian. Aku bisa..” soraknya kegirangan. Ia berjingkrak-jingkrak, sama halnya saat beberapa hari lalu kujumpai ia di pinggir jalan.

“Dan ini uang hasil kerja kerasmu itu. Gunakan baik-baik ya dik, jika kamu butuh bantuanku lagi, kamu bisa menemuiku disini, di taman ini.”jelasku sembari menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan dan satu lembar lima puluh ribuan.

“Terimakasih kak.” Ucapnya seraya berlari pulang. Ia melompat-lompat girang.

“Sama-sama” jawabku lirih dan menyimpulkan sebuah senyum melihat bahagianya bocah itu. Aku menemukannya kembali. Senyum di wajahnya itu.

***

      Setahun telah berlalu. Sejak pertemuan kami di taman itu, aku tak pernah melihat senyumnya lagi. Yang kutemui hanya beberapa puisinya yang tampak selalu hadir di surat kabar. Ia telah menemukan dirinya. Menemukan cara untuk mewujudkan impiannya. Mungkin saat ini ia telah duduk di bangku SMA, belajar dengan tekun untuk memperbaiki kehidupannya. Aku akan sangat bangga jika ia sukses nanti.

“Hey, kak”seseorang menepuk pundakku.

      Aku menoleh dan ternyata itu Toni. Ia telah rapi berseragam SMA, putih abu-abu warnanya. Senyum manisnya masih sama seperti dulu.

“Hey Toni. Duduklah!”pintaku.

      Dia duduk di sampingku.

“Gimana kabar sekolahmu? Apa semuanya seperti inginmu?”sambungku.

“Aku telah mewujudkannya. Aku telah menemukannya. Aku bisa kak. Aku bisa melakukannya. Apa yang kakak katakan benar. Mimpi itu untuk diwujudkan bukan hanya sebagai khayalan. Semua harta keluarga kami telah kembali. Bapa sudah kembali menjadi dirinya yang dulu. Ia telah menjauhi mabuk dan perjudian. Benar, Tuhan aku mengabulkan semua permintaan hamba-Nya jika kita berusaha dengan sungguh-sungguh. Terimakasih kak. Ini untukmu.”dia meyerahkan sebuah buku. Sebuah novel tepatnya. Dan ternyata itu novel buatannya. Air mata bahagia mengalir di pipiku. Aku bangga. Aku bangga bisa memotivasinya menjadi seseorang yang sukses. Aku bangga.

      Senja kali ini berbeda dari biasanya. Cakrawala jingga itu berbeda. Ia lebih indah. Lebih indah dari biasanya.