Kamis, 31 Maret 2016

EDOGAWA BLOGS

PERMATA TERBALUT DUSTA
(Silpana Fauziah)

Suara bisik terdengar bergemersik
Dalam hening kebisuan wajah-wajah terpekik
Meneriak tak bersuara dari sudut ke sudut
Bercengkrama kecil dengan isyarat kening berkerut

Selayang pandang kuarahkan ke sudut kelas
Tatapan tajam bertameng wajah memelas
Merajuk sukmaku tuk perbuat  tidak mereka

Esok yang ditunggu pun tiba
Sorak girang wajah mengiba
Miris melihat mereka berbangga-bangga
Dapati hasil digjaya buah ketidakjujuran

Sebuah angka fantastik buat mendelik mata ini
Membayang culas mengulas seisi kelas
Mengulur dusta demi hasil sempurna

Tak dapat kubayangkan
Kelak, kan berwajah apa negeri ini?
Saat seluruh kaki tangannya
tak lagi beretika
Saat ribuan tiang penyangganya
tak lagi kokoh bagai baja

Hati mereka kini susut
Aus oleh hasrat yang membelenggu dada
Terpenjara di balik bui ketamakan

Mengapa tak bertindak seadanya?
Nilai luhung bangsa ini
ialah ucap penuh fakta
Di mana para generasi bangsa
yang masih memegang teguh tradisi itu?
Keculasan dan dusta kini membudaya
Menjadi tradisi turun temurun dalam dinasti bangsa

Kejujuran semakin samar
Keculasan kini mengakar
Berserabut di balik gembur subur tanah negeri ini
Menjadi hama pribumi
yang kelak harus kubasmi

Elus dada untuk pertiwi
Yang kini melahirkan generasi sakti
Penghancur bumi dan masa depan negeri

Maret 2016

Rabu, 30 Maret 2016

EDOGAWA BLOGS

SAYAP-SAYAP PERTIWI
(Silpana Fauziah)

Di tengah hangat mentari Senin pagi
Di antara senandung puji teruntuk pertiwi
Sang saka kibarkan kharisma bangsa
Lewat kumandang nyanyian "Indonesia raya"
Kubusungkan dada dengan tegap hormat penuh bangga

Tak terhitung nyawa berkorban atas namamu
Bertumpah darah
demi tertancapnya panji merdekamu

Usiamu kini merangkak menuju satu abad
Telah kau lahirkan beragam prestasi anak-anak pertiwi
lewat keindahan budaya negeri
lewat kecemerlangan sang putera puteri
membawa kau ke puncak popularitas
menyebar kharisma kejayaan sebuah bangsa

Perjalananmu kini kembali tersandung onak duri
Prahara alam mengguncang tubuh rentamu
Memporak porandakan tiang-tiang kehidupan
Menyisakan puing-puing kepedihan
yang berujung ketidakpastian

Hiruk pikuk anak-anak negeri
Yang meneriakkan ketidakadilan
saling caci sesama teman
saling cakar sesama sejawat
saling terjang sesama anak bangsa
Menoreh luka di tubuh penatmu

Jangan takut ibu pertiwiku
Tak kan kubiarkan luka terus menganga di tubuhmu
Tak kan kubiarkan tetesan tangis mengucur di wajahmu
Tak kan kubiarkan tubuhmu limbung diguncang prahara

Akulah sanggaanmu
Tangan-tangan mungil
Yang akan menopang tubuh rapuhmu

Akulah garudamu
Dengan sayap-sayap mengembang
Tak kan biarkan kibaran benderamu lemah terkulai


 Maret 2016

EDOGAWA BLOGS

SEMBURAT ASA KEMBANG JALANAN
(Silpana Fauziah)

Kulihat ia berjongkok di tepi jalanan 
Dengan sepasang mata berbinar penuh keibaan
Terlunta-lunta seorang diri bernaung terik mentari
Tertawa riang bersama hiruk pikuk kota berpolusi

Kala senja tiba
Ia turut pulang ke singgasana bersama sang surya
Sejengkal demi sejengkal langkah kecilnya
Menyusuri koral batu dan debu jalanan
Terlentang nyenyak beralaskan kardus di kolong langit
Berselimut angin yang membalut tubuh keringnya
Bertemankan rembulan purnama di langit berbintang

Di setiap mentari terbit
Ia kembali bergentayang di antara keramaian kota
Berhuru hara di atas genangan air kotor
Merajai siang malam
di antara hilir mudik kendaraan

Kala kujaja pagar-pagar jembatan itu
Kujumpai ia termangu dengan lugu 
Merangkul lututnya sembari tertunduk lesu

Hidupnya amatlah asing pada aksara
Ia buta dari ilmu dan pengetahuan
Ia tak bisa menghitung banyak jemarinya
Tak tahu menahu soal alphabet dan matematika
Namun soal kehidupan, ialah rajanya
Penat dan dahaga membingkai hidup laranya

Kuhampiri ia
Kubelai tubuh mungilnya
Kuraih lentik jarinya
Kurangkul pundaknya
yang telah amat sarat oleh beban hidupnya

Kutuntun ia untuk membaca
Sepatah kata terucap dari mulut kelunya
Ia mulai fasih berkata-kata
Mengurai senyum manis di wajahnya

Andai seribu tindak dapat kulakukan
Kan kubawa ia terbang
mengarungi cakrawala angan

Mata binar itu mengiba
Menelisik jiwa, kalbu, dan sukma
Kasihani ia,Tuhan
Sepenggal sosok dalam balutan debu jalanan


Maret 2016