Jumat, 30 Oktober 2015

EDOGAWA BLOG'S

"KISAH SEPI"
(Silpana Fauziah)

Desir angin menyisir setiap lorong di hati
Hembuskan gelisah
Titipkan rindu pada sang kuasa

Kala bola mata terdiam
Tertuju pada sesosok bayang
yang kian samar tergores waktu

Heran
Sungguh heran
Tersentak dari dudukku

Aku bercerita
pada para ilalang semu di dada
Betapa getirnya hidup

Hitam
Putih
Aku tak tahu
Aku tak melihat
meski aku tiada buta


Oktober 2015

Senin, 26 Oktober 2015

EDOGAWA BLOG'S

"SURAT KECIL"
(Silpana Fauziah)

Ada satu kata mendesak kalbu
Sesak dan sesal berbaur menjadi satu
Berpadu menjadi bisu

Melupakan bukanlah pelajaran mudah
Bukan soal misteri yang bisa dipecahkan

Diam
Bisu
Tak mampu kuangkat lagi langit
Kusenyumi rembulan yang mulai meredup
Bisikan
Jeritan
Memberi warna baru dihidupku

Denting waktu berputar dengan cepat
Mengusap mesra tubuh kaku penuh haru

Rangkaian kata jadi pelampiasan
Menjadi penyeka air mata yang bertetesan

Desir angin menerpa tubuh tergoncang
Terbang jauh ke pelosok bumi
Terperosok ke dasar jurang yang curam

Dengar
Aku rindu



08 oct 2015

EDOGAWA BLOG'S

"DI UJUNG SENJA"
(Silpana Fauziah)

Lambat laun 
Kau kian renta
Temaram di ufuk kemodernan

Aku tak mengerti
Seberapa sakti teknologi
yang buat kita jatuh hati
Yang membuat kita berpaling darimu

Kau suguhkan keindahan
Yang tersirat lewat tarian
Yang terlukis lewat goresan
Yang terukir lewat pahatan
Yang tertata dari pakaian

Namun itu bukanlah keabadian
Karena arus modernitas
Telah menyeret kita jauh darimu

Biarkan aku
Menjadi tongkat penyanggamu kelak
Yang akan membuatmu abadi dengan kerentaanmu
Yang akan melahirkanmu kembali dari masa tuamu

Biarkan aku
Menjadi tulang rusukmu yang dulu telah rusak
Tercabik-cabik oleh keganasan zaman
Yang akan menopangmu tuk berdiri
Yang akan mencegah datangnya kepunahan jauh hari

Mungkin saat ini
Perlahan engkau terbenam di ujung senja
Tapi esok
kau akan kembali terbit
menjadi cahaya paling terang di langit



Juni 2015

Kamis, 22 Oktober 2015

EDOGAWA BLOG'S

"SAJAK RINDU"
(Silpana Fauziah)

Sepi rasa di dada
Hampa pikiran melayang terbang
Sebuah nama kulantunkan
Tangisan kecil dalam doa

Hembus angin tebarkan pesona
Sesal, sungguh kumenyesal
Tak lagi kuberdusta
Aku rindu

Suara manisnya mengiang
di beranda telinga
Gelak tawanya membuatku gila
dalam hening tercipta

Sebait sajak kuuntai
Berharap suatu saat rasa ini hilang
'Kan kukenang
walau bimbang

Duhai rindu tak bertuan
Denting waktu tak berhenti begitu saja

EDOGAWA BLOG'S

PUISI KARYAKU


"BILA AKU MATI"
(Silpana Fauziah)

Bila aku mati nanti
aku mau langit bertabur merpati
dan tubuhku terhunus belati

Bila aku mati nanti
jangan pernah kau kuliti lagi
tubuh yang terluka kau khianati

Bila aku mati nanti
kuingin lautan menjadi saksi
akan dusta yang kau ucap hingga kumati

Desas desusmu
telah lama menjadi pisau untukku
membuatku menunggu
waktu yang tak pernah ada untukku
hingga maut datang menjemput

Takkan ada tangis di pipimu
takkan ada sesal di dadamu
hujan 'kan membasahiku
hanyut karena keacuhanmu
mengantarku pada timbunan tanah bernisan

Sebelum keranda diusung
akankah kau bicara padaku?
mungkin untuk mengucapkan "sayonara"
atau untuk berdusta lagi

Kenang..
bila aku mati nanti


Rajadesa,22 oktober 2015