SEMBURAT ASA KEMBANG JALANAN
(Silpana Fauziah)
Kulihat ia berjongkok di tepi jalanan
Dengan sepasang mata berbinar penuh keibaan
Terlunta-lunta seorang diri bernaung terik mentari
Tertawa riang bersama hiruk pikuk kota berpolusi
Kala senja tiba
Ia turut pulang ke singgasana bersama sang surya
Sejengkal demi sejengkal langkah kecilnya
Menyusuri koral batu dan debu jalanan
Terlentang nyenyak beralaskan kardus di kolong langit
Berselimut angin yang membalut tubuh keringnya
Bertemankan rembulan purnama di langit berbintang
Di setiap mentari terbit
Ia kembali bergentayang di antara keramaian kota
Berhuru hara di atas genangan air kotor
Merajai siang malam
di antara hilir mudik kendaraan
Kala kujaja pagar-pagar jembatan itu
Kujumpai ia termangu dengan lugu
Merangkul lututnya sembari tertunduk lesu
Hidupnya amatlah asing pada aksara
Ia buta dari ilmu dan pengetahuan
Ia tak bisa menghitung banyak jemarinya
Tak tahu menahu soal alphabet dan matematika
Namun soal kehidupan, ialah rajanya
Penat dan dahaga membingkai hidup laranya
Kuhampiri ia
Kubelai tubuh mungilnya
Kuraih lentik jarinya
Kurangkul pundaknya
yang telah amat sarat oleh beban hidupnya
Kutuntun ia untuk membaca
Sepatah kata terucap dari mulut kelunya
Ia mulai fasih berkata-kata
Mengurai senyum manis di wajahnya
Andai seribu tindak dapat kulakukan
Kan kubawa ia terbang
mengarungi cakrawala angan
Mata binar itu mengiba
Menelisik jiwa, kalbu, dan sukma
Kasihani ia,Tuhan
Sepenggal sosok dalam balutan debu jalanan
Maret 2016
(Silpana Fauziah)
Kulihat ia berjongkok di tepi jalanan
Dengan sepasang mata berbinar penuh keibaan
Terlunta-lunta seorang diri bernaung terik mentari
Tertawa riang bersama hiruk pikuk kota berpolusi
Kala senja tiba
Ia turut pulang ke singgasana bersama sang surya
Sejengkal demi sejengkal langkah kecilnya
Menyusuri koral batu dan debu jalanan
Terlentang nyenyak beralaskan kardus di kolong langit
Berselimut angin yang membalut tubuh keringnya
Bertemankan rembulan purnama di langit berbintang
Di setiap mentari terbit
Ia kembali bergentayang di antara keramaian kota
Berhuru hara di atas genangan air kotor
Merajai siang malam
di antara hilir mudik kendaraan
Kala kujaja pagar-pagar jembatan itu
Kujumpai ia termangu dengan lugu
Merangkul lututnya sembari tertunduk lesu
Hidupnya amatlah asing pada aksara
Ia buta dari ilmu dan pengetahuan
Ia tak bisa menghitung banyak jemarinya
Tak tahu menahu soal alphabet dan matematika
Namun soal kehidupan, ialah rajanya
Penat dan dahaga membingkai hidup laranya
Kuhampiri ia
Kubelai tubuh mungilnya
Kuraih lentik jarinya
Kurangkul pundaknya
yang telah amat sarat oleh beban hidupnya
Kutuntun ia untuk membaca
Sepatah kata terucap dari mulut kelunya
Ia mulai fasih berkata-kata
Mengurai senyum manis di wajahnya
Andai seribu tindak dapat kulakukan
Kan kubawa ia terbang
mengarungi cakrawala angan
Mata binar itu mengiba
Menelisik jiwa, kalbu, dan sukma
Kasihani ia,Tuhan
Sepenggal sosok dalam balutan debu jalanan
Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar