SECERCAH HARAPAN DI BALIK SENJA
Di setiap mentari mulai menggeliat manja bersamaan dengan
riuh kicau burung, selalu kusempatkan diri berjalan-jalan menyusuri tepian
jalan yang telah cukup rapi bertrotoar dan mulai ramai dengan berbagai
aktivitas. Sembari mencari berbagai inspirasi untuk karya tulisku nanti.
Kebetulan, aku seorang penulis. Gemar membuat cerita-cerita, puisi, dan karya
sastra lainnya.
Saat aku duduk di salah satu bangku yang
ada di tepi jalan sembari menyantap makanan yang telah kubeli tadi dari sebuah
warung, kulihat seorang anak dengan dasi biru yang melingkar di lehernya,
sepatu lusuh yang ia kenakan nampak tak membuat semangatnya surut. Terlihat ia
bernyanyi-nyanyi kecil di sepanjang jalan sembari menjinjing kantong plastik
hitam yang nampak berisi beberapa bungkus jajanan rumahan. Dia berjalan sedikit
berjingkrak-jingkrak dan saat melihatku dia tersenyum simpul sembari berkata,
“Selamat Pagi, Kak!” sapanya. Aku tertegun. Sepertinya aku tak pernah
mengenalnya sama sekali. Bocah laki-laki dengan lesung pipit di kedua pipinya
membuatnya terlihat manis. Aku hanya memberi respon senyum walau terlambat
karena anak itu sudah nampak jauh berjalan. Kuikuti langkah kecilnya dan
terhenti di sebuah Sekolah Menengah Pertama. Saat itu bel berbunyi dengan
lantangnya, anak itu tampak berlari sekencang mungkin sebelum pagar ditutup.
Aku berbalik arah setelah memastikan bahwa anak itu memang anak yang sangat
disiplin juga riang.
***
Siang ini aku mengunjungi taman. Seperti
biasa, menunggu waktu senja datang sembari merangkai beberapa bait puisi
berteman cakrawala jingga yang sarat oleh lembayung. Taman ini memang selalu
sepi, jarang sekali ada orang yang mengunjungi, hanya beberapa gelintir orang
yang datang dan berpose ria disini. Ada sebuah kursi dibawah pohon rindang di
taman ini. Disanalah aku terbiasa menghabiskan waktu seorang diri bersama riuh
angin yang menerpa dedaunan, menghembuskan damai ke dasar relung dada.
Ada seseorang duduk disana, di dekat
telaga yang ada di ujung taman ini. Seorang bocah lelaki yang serasa tak lagi
asing bagiku. Ya, tak salah lagi. Itu memang bocah manis tadi. Bocah yang
menyapaku di pinggir jalan tadi. Dia tengah merenung, entahlah sikapnya justru
sangat jauh berbeda dengan pagi tadi. Raut senyum di wajahnya tak lagi nampak,
seperti ada kesedihan yang begitu mendera jiwa. Ia bangkit dari duduknya.
Sembari menyeka air mata yang jatuh di pipinya. Dia menangis. Ya, benar, dia
benar-benar menangis.
Aku sangat heran dengan sikapnya.
Keceriaan dan keriangannya pagi tadi ternyata menyembunyikan duka yang begitu
mendalam. Saat ia beranjak pergi dari duduknya, kuikuti langkahnya dan tiba di
sebuah rumah kecil nan sederhana. Rumah yang masih berdinding kayu yang nampak
lapuh termakan usia. Nampak seorang wanita parubaya duduk di beranda sembari
menyusun beberapa helai bambu, bertumpaktindih membentuk sebuah motif indah
bernuansa. Bocah laki-laki itu nampak menyalami wanita parubaya tadi. Itu pasti
ibunya. Terbukti saat bocah itu memanggilnya dengan sebutan ‘emak’. Aku
mengamati kegiatan mereka saat itu dari balik rimbun pepohonan. Beberapa saat
kemudian, seorang laki-laki berkumis tebal dan brewokan dengan dada tegap dan
tubuh yang kekar keluar dari pintu rumah yang telah amat reyot itu. Laki-laki
itu keluar dengan penuh amarah seperti memaksakan sesuatu pada wanita itu.
“Aku tidak punya uang lagi mas, iya, sumpah aku tak
punya uang lagi setelah kau rampas semua hasil kerja kerasku semalam!
Sesungguhnya untuk apa? Untuk apa semua uang itu? Untuk kau pertaruhkan di meja
perjudian? Iyakah? Apa untungnya mas? Apa?” pekik wanita itu seraya menangis
tersedu-sedu.
“Diam kau! Tak perlu banyak bicara, serahkan uang itu
sekarang! Aku membutuhkannya!” gertak lelaki itu dengan kasarnya.
“Sudahlah mak, pa, tak usah kalian bertengkar lagi! Aku
sudah muak, muak mendengar percekcokan kalian di rumah ini! Semuanya serasa
berbeda. Jauh berbeda dengan keadaan keluarga kita dulu. Pa, kenapa bapa jadi
begini? Bapa jadi brutal bengis semenjak bapa bangkrut? Bapa juga jadi sering
mendatangi meja pejudian, mabuk-mabukan semenjak itu! Untuk apa, pa? Bapa dulu
seorang yang baik, tak seperti saat ini. Kasihan emak pa, kasihani dia yang
bekerja keras menjadi tulang punggung keluarga utuk menghidupi kita! Kenapa
bapa hamburkan uang itu begitu saja?” bocah tadi keluar dari rumah dengan wajah
kecewanya menghampiri ibu bapaknya yang tengah dilanda konflik hebat.
“Plakkk” suara tamparan terdengar begitu kencang,
membuat merah di pipi anak itu.
“Sejak kapan kau menjadi pembangkang, Toni? Aku ini
bapakmu, tak perlu kau bicara seperti itu padaku. Dasar bocah tak berguna,
untuk apa kau sekolah bila kau masih belum bisa menghargai orang tua? Buat apa?
Lebih baik tak usah kau pergi sekolah lagi, itu hanya membuang biaya saja!
Cuihhh!” lelaki bengis itu begitu menyeramkan.
“Kau bukan bapakku! Bapak bukan lelaki kasar sepertimu!
Siapa kau? Mabuk dan perjudian telah mengubahmu menjadi seseorang yang keji,
pa. Aku benci. Aku benci bapak!!” teriak anak itu pada bapaknya seraya berlari
menjauh dari rumah kecil itu.
“Dasar anak tak tahu diri!” gumam lelaki itu seraya
pergi meninggalkan wanita parubaya itu sendirian.
Ternyata ini permasalahannya. Konflik di
dalam keluarganya yang membuat dia murung tadi. Sungguh itu konflik yang hebat.
Setidaknya aku tahu, dulu mereka keluarga yang harmonis sebelum kebangkrutan
perusahaannya. Keadaan ekonomi inilah yang membuat sang ayah terjerumus ke meja
perjudian. Bocah itu bernama Toni. Aku tahu ketika lelaki itu tadi menyebut
namanya. Entah anak itu pergi kemana setelah pertengkaran tadi. Aku melihat
beberapa bulir air matanya jatuh bercucuran di pipinya tadi. Entah dia
menghilang kemana.
***
“Syukurlah, cerpen ketigaku minggu ini
telah selesai, tinggal kukirim ke surat kabar dan pembaca takkan pernah bosan
menunggu lagi. Hmm, lelah rasanya!” gumamku sembari membaringkan tubuhku di
kasur. Aku bangun saat tersadar bahwa jam telah menunjukkan pukul 07.30. Segera
aku bangkit mengambil jaketku karena cuaca di luar saat ini cukup dingin.
Gerimis turun sejak malam tadi. Keluar dari kostan, kulangkahkan kaki kananku
berjalan menuju warung jajanan pagi. Seperti biasanya, aku membeli jajanan
secukupnya karena aku tak pernah memiliki banyak uang. Aku belajar hidup
mandiri, biaya kuliah dan makanku sehari-hari hanya dari hasil menulisku. Namun
aku tak pernah merasa kekurangan sedikit pun.
Setelah membeli beberapa makanan untuk
mengganjal perutku pagi ini, aku berencana mengunjungi sekolah itu lagi.
Kebetulan, sekolah itu adalah almamaterku. Ya, SMP Citra Buana. Untungnya, tak
ada jadwal kuliah hari ini. Aku telah berada di depan gerbang sekolah itu.
Sekolah ini telah cukup pesat berkembang daripada 8 tahun silam, saat aku masih
menduduki bangku sekolah disini.
“Selamat pagi, Pa Karto!” sapaku pada penjaga gerbang
sekolah yang telah cukup lama mengabdi di sekolah itu sejak aku masih sekolah
disana.
“Eh, Neng Dinda ya? Sudah lama tak bertemu. Gimana neng
kabarnya? Baik?” lelaki itu telah nampak begitu tua dari dahulu. Terlihat
keriput tulang pipinya begitu jelas nampak. Rambutnya yang tak lagi hitam
mengkilat, tubuhnya yang mulai membungkuk sungguh sangat jauh berbeda saat ia
muda dulu.
“Baik sekali, pa. Sudah lama ya aku tak berkunjung
kesini, bagaimana dengan bapa? Apa bapa baik-baik saja?” tanyaku kembali.
Ia hanya tersenyum simpul. Janggut putih yang lebat di
dagunya menyembunyikan senyum itu.
“Kau lihat kan aku masih baik-baik saja, sama seperti
saat kau masih sering merayuku sampai menangis saat tiba di sekolah terlambat
dan pintu gerbang telah ditutup. Kau selalu saja datang terlambat saat itu.
Namun bedanya saat ini aku sudah begitu tua. Kalau kursi mungkin sudah reyot,
iya kan?” candanya sembari tertawa terbahak-bahak saat menceritakan kebiasaanku
dulu.
Pa
Karto memang tetap humoris seperti dulu. Tawanya masih sama saat ia
menertawaiku karena merengek-rengek agar dibukakan pintu gerbang.
“Ah, bapa kok masih ingat cerita itu sih. Itu cerita
lama, pa. sudahlah!”
“Tentu saja aku ingat, kau satu-satunya murid perempuan
yang selalu datang terlambat. Cengeng pula.”dia tertawa sampai kedua ujung
matanya bertemu.
“Oh, iya, ada perlu apa Neng?”sambungnya.
“Gini pa, saya sudah sangat rindu dengan sekolah ini.
Karena tidak ada jadwal kuliah, jadinya aku kesini. Ya, sekedar main-main deh
pa, sambil mau silaturahmi sama bapa ibu guru.” Jelasku.
“Oh iya iya. Silahkan masuk, Neng!” ucapnya seraya
membukakan pintu gerbang. Sedari tadi kami hanya mengobrol dari balik jeruji
gerbang ini.
“Terimakasih, pa” ucapku sembari melontarkan senyum pada
lelaki tua itu.
“Tak usah merengek padaku lagi Neng, kau sudah besar
sekarang.” godanya. Aku tersenyum.
Tengggg… Tengggg…. Bel istirahat berbunyi
kencang. Anak-anak dari setiap kelas berhanburan keluar. Seperti serangga yang
keluar dari sarangnya. Mereka berebut menuju kantin sekolah. Kecuali Toni. Ia
nampak berjalan santai dengan menjinjing kresek berisi keripik singkong. Ia
menawarkan jajanan itu kepada teman-temannya. Nampak beberapa anak berkumpul
dan membelinya. Dalam sekejap jajanan itu habis terjual. Usai berjualan, ia
berlari-lari, mungkin ia ingin pergi ke suatu tempat sebelum waktu istirahat
berakhir. Aku membuntutinya, ternyata ia mengunjungi pepustakaan sekolah. Dari
jendela luar aku memperhatikannnya. Saat bel kembali berbunyi, ia keluar dengan
membawa beberapa buku.
***
Langit telah berubah menjadi jingga
warnanya. Burung-burung beterbangan dibalik cakrawala berlembayung senja. Aku
termenung disini. Memandangi langit senja, mahakarya Tuhan yang begitu agung.
Kuungkap dalam kata. Rasa takjubku. Cintaku pada sang Kuasa. Tak ada yag lebih
indah, tak ada yang lebih menakjubkan selain suasana senja di saat
burung-burung kembali ke sangkarnya, saat mega membentuk serabut-serabut jingga
di angkasa.
“Indah,
Tuhan!” gumamku.
“Hu…huu,,Hu.. mengapa begini Tuhan? Mengapa hidup ini
begitu rumit? Aku lelah, Tuhan. Hiks..hikss” rintih seseorang di balik pohon
rindang di belakangku.
Tiba-tiba bulu kudukku serasa berdiri. Aku
hanya bergidik sendiri. Angin kencang menyusup ke dalam pori-pori. Takut
rasanya membayangkan ada seseorang di balik pohon ini. “Siapa itu? Siapa?
Jangan-jangan….”selera hororku semakin menjadi-jadi. Entah mengapa saat itu
tiba-tiba aku berlagak selayaknya aktor-aktor film horor. Aku memberanikan diri
melihat sosok yang tengah merintih itu. Jantungku berdebar begitu kencangnya.
Dan….
Ternyata itu Toni. Aku menghampirinya.
Tubuh mungil itu kubelai dengan lembutnya.
“Ada apa denganmu kawan? Mengapa kau mengadu begitu?
Hey, itu tidak baik. Tidak baik saat kau berkeluh kesah dengan takdir yang
telah Tuhan berikan. Syukuri saja.”ucapku lembut.
Ia menoleh. “Tapi kak, ini tidak adil. Hidup ini begitu
tidak adil. Mengapa di saat aku membutuhkan banyak perhatian, finansial,
semuanya hancur! Mengapa harus di saat seperti ini? Mengapa?”tangisnya.
“Coba ceritakan apa masalahmu? Siapa tahu aku bisa
membantu!”ucapku menenangkan.
“Begini kak. Dulu keluargaku sangatlah harmonis.
Semuanya masih baik-baik saja. Bahkan keadaan ekonomi kami pun masih sangat
tercukupi. Namun, sejak 3 bulan yang lalu, bapa bangkrut, hektaran kebun,
ladang dan sawah bapa ludes terjual untuk membayar utang-utang bapa juga untuk
membiayai pengobatan nenek yang akhirnya tidak terselamatkan. Dia stres lalu
menyeburkan diri ke hal-hal yang condong negatif, seperti mabuk dan judi.
Bahkan sejak saat itu, ibu harus mati-matian bekerja untuk menghidupi kami dan
bapa hanya menghambur-hamburkan uang tersebut untuk kesenangan pribadinya. Dan
saat ini aku membutuhkan banyak biaya untuk melanjutkan sekolahku. Aku ingin
mewujudkan cita-citaku untuk mengembalikan keadaan keluargaku seperti dulu.
Tapi itu tidak mungkin, ibu tidak mungkin mampu lagi membiayai sekolahku, untuk
keperluan sehari-hari saja belumlah cukup. Aku tidak mungkin menjadi orang
sukses. Impianku hanya akan terkubur sampai disini. Tidak. Aku tak ingin hidup
seperti ini. Saat ini aku juga butuh uang untuk membayar buku-buku pelajaran.”terangnya
panjang lebar.
“Hey dik, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.
Dunia ini luas, lihatlah.”ucapku seraya menunjukan seekor burung yang tengah
mondar mandir mengambil ranting-ranting kecil pepohononan untuk membangun
sarangnya.
“Lihat, apa mungkin dengan satu buah ranting saja sarang
burung itu akan terbentuk? Tidak kan? Begitulah dengan kerja keras kita. Semua
hal takkan terwujud jika kita hanya berjuang sekali. Tidak mungkin dik. Tuhan
menginginkan kita untuk berjuang sampai batasnya. Ayolah dik, jangan mengeluh
begitu. Kamu pasti bisa. Tahu tidak, sejak SMA aku hidup mandiri di kota ini,
sendiri. Orang tuaku telah lama pergi merantau ke negeri lain, dan untuk
membiayai hidupku aku bekerja sendiri, kadang sebagai loper Koran, penjaja kue,
mencuci baju di rumah tetangga, dan baru-baru ini aku mendapatkan pekerjaanku
sesungguhnya, sebagai penulis. Dari hasil kerja kerasku ini, Alhamdulillah aku
bisa menyelesaikan kuliahku. Semua berawal dari mimpi dik. Jika kamu punya
mimpi dan tertekad untuk mewujudkannya, Tuhan takkan mempersulit itu.
Percayalah, mimpi itu bukan ilusi.”jelasku.
Tangisnya terhenti. Matanya berbinar-binar. Begitu lucu.
Sejak lama aku menginginkan seorang adik laki-laki.
“Benarkah kak? Kau tidak bohong kan?”Tanya dia dengan
mata itu yang sedikit berkaca-kaca memantulkan pelangi indah di hatinya.
Aku
menggeleng menandakan bahwa aku tidak berbohong.
“Kak, aku juga suka menulis puisi. Bisakah aku menjadi
seorang penulis sepertimu? Menggapai mimpiku dengan kerja kerasku sendiri. Aku
ingin kak. Aku ingin sukses dengan keringatku sendiri.”
“Tentu saja. Kamu bisa, karena kamu punya mimpi.”ucapku
sembari tersenyum meyakinkannya.
Ia
menyerahkan sehelai kertas padaku. Beberapa bait puisi sungguh menggugah
hati.”Dia berbakat” bisikku dalam hati.
“Bolehkah kuambil puisimu ini untuk kuberikan kepada
penerbit? Siapa tahu ini bisa dimuat di surat kabar dan kamu akan mendapat uang
untuk membayar buku-buku itu. Percayalah padaku, besok kita bertemu disini
lagi. Aku janji akan membawa kabar baik padamu.” Ucapku.
Dia mengangguk seraya menyeka air matanya.
Hari mulai petang. Mentari mulai menenggelamkan dirinya di ufuk barat. Senja
telah tiba, berpayung lembayung jingga di angkasa. Kami menghabiskan waktu
disini. Sama-sama tenggelam dalam pikiran sendiri. Terakhir kulihat, anak itu
tersenyum dan hilang dibalik kegelapan malam.
***
Aku melihatnya. Ya, aku telah melihatnya.
Anak itu sudah tiba dan duduk seperti biasa di tempat itu. Di dekat pohon
rindang di taman.
“Heyy..” sapaku.
“Heyy kak..”sahutnya.
“Ohh iya namaku Toni.” Sambungnya seraya menjulurkan
tangan.
Aku tersenyum. “Aku Dinda.”balasku.
“Bagaimana kak? Aku sudah tidak sabar.”ucapnya
tergesa-gesa.
“Lihat ini.”ucapku sembari menyerahkan sebuah Koran dan
menunjukan sebuah halaman yang memuat karyanya hari kemarin.
“Puisiku dimuat, yeee puisiku masuk Koran. Aku bisa
bayar buku, aku bisa ikut ujian. Aku bisa..” soraknya kegirangan. Ia
berjingkrak-jingkrak, sama halnya saat beberapa hari lalu kujumpai ia di
pinggir jalan.
“Dan ini uang hasil kerja kerasmu itu. Gunakan baik-baik
ya dik, jika kamu butuh bantuanku lagi, kamu bisa menemuiku disini, di taman
ini.”jelasku sembari menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan dan satu lembar
lima puluh ribuan.
“Terimakasih kak.” Ucapnya seraya berlari pulang. Ia
melompat-lompat girang.
“Sama-sama” jawabku lirih dan menyimpulkan sebuah senyum
melihat bahagianya bocah itu. Aku menemukannya kembali. Senyum di wajahnya itu.
***
Setahun telah berlalu. Sejak pertemuan
kami di taman itu, aku tak pernah melihat senyumnya lagi. Yang kutemui hanya
beberapa puisinya yang tampak selalu hadir di surat kabar. Ia telah menemukan
dirinya. Menemukan cara untuk mewujudkan impiannya. Mungkin saat ini ia telah
duduk di bangku SMA, belajar dengan tekun untuk memperbaiki kehidupannya. Aku
akan sangat bangga jika ia sukses nanti.
“Hey, kak”seseorang menepuk pundakku.
Aku menoleh dan ternyata itu Toni. Ia
telah rapi berseragam SMA, putih abu-abu warnanya. Senyum manisnya masih sama
seperti dulu.
“Hey Toni. Duduklah!”pintaku.
Dia duduk di sampingku.
“Gimana kabar sekolahmu? Apa semuanya seperti
inginmu?”sambungku.
“Aku telah mewujudkannya. Aku telah menemukannya. Aku
bisa kak. Aku bisa melakukannya. Apa yang kakak katakan benar. Mimpi itu untuk
diwujudkan bukan hanya sebagai khayalan. Semua harta keluarga kami telah
kembali. Bapa sudah kembali menjadi dirinya yang dulu. Ia telah menjauhi mabuk
dan perjudian. Benar, Tuhan aku mengabulkan semua permintaan hamba-Nya jika
kita berusaha dengan sungguh-sungguh. Terimakasih kak. Ini untukmu.”dia
meyerahkan sebuah buku. Sebuah novel tepatnya. Dan ternyata itu novel
buatannya. Air mata bahagia mengalir di pipiku. Aku bangga. Aku bangga bisa
memotivasinya menjadi seseorang yang sukses. Aku bangga.
Senja kali ini berbeda dari biasanya.
Cakrawala jingga itu berbeda. Ia lebih indah. Lebih indah dari biasanya.